Industri out-of-home advertising (OOH) di Indonesia terus bertumbuh pesat seiring peningkatan urbanisasi, mobilitas masyarakat, dan perkembangan digital. Bagi brand global maupun lokal, pemahaman mengenai benchmark biaya seperti CPM (cost per mille), CPC (cost per click) pada kampanye OOH modern, hingga estimasi ROI (return on investment) menjadi penting agar strategi yang dijalankan optimal. Artikel ini akan membahas wawasan berdasarkan data 2025 untuk membantu pengiklan menentukan ekspektasi biaya dan performa saat menjalankan kampanye OOH di Indonesia.
1. Gambaran Pasar OOH Indonesia 2025
- Ukuran pasar: diproyeksikan mencapai USD 630 juta pada 2025.
- Pertumbuhan tahunan: ±12% YOY, didorong oleh transformasi menuju DOOH (digital OOH).
- Kota utama: Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Bali.
- Tipe media: billboard statis, LED besar (DOOH), transit OOH (halte, stasiun kereta) dan digital billboard dalam mal.
Kombinasi populasi besar dan penetrasi internet tinggi menjadikan Indonesia unik (OOH mampu memicu trafik digital melalui QR code, sosial media, dan pencarian).
2. Benchmark CPM Iklan OOH di Indonesia 2025
| Jenis Media OOH | Lokasi | Kisaran CPM (IDR) | Kisaran CPM (USD) |
|---|---|---|---|
| Billboard Statis | Kota Tier-1 | Rp38.000 – Rp75.000 | $2,5 – $5 |
| Digital Billboard | CBD Jakarta | Rp60.000 – Rp120.000 | $4 – $8 |
| Transit OOH (MRT/BRT) | Jalur utama | Rp45.000 – Rp95.000 | $3 – $6 |
| Indoor DOOH (mal) | Premium shopping mall | Rp30.000 – Rp55.000 | $2 – $3,5 |
Catatan: CPM lebih tinggi terjadi pada jam puncak (pagi & sore) dan lokasi dengan durasi tayang >15 detik per loop.
3. Perbandingan dengan CPC pada Kampanye Hybrid OOH + Digital
Sebagian operator OOH kini menawarkan paket integrasi QR Code yang mendorong website visit. Dari kampanye tersebut muncul angka CPC rata-rata berikut:
- QR scan to landing page: Rp1.500 – Rp4.000 per klik
- Traffic ke marketplace: Rp2.000 – Rp6.000 per klik
- Social media redirect: Rp1.000 – Rp3.000 per kunjungan
Artinya, kampanye OOH modern sudah bisa memberikan performa direct response yang mendekati paid ads digital, terutama jika desain kreatifnya kuat.
4. Estimasi ROI Berdasarkan Skenario Kampanye OOH
ROI = (Keuntungan Kampanye – Biaya Kampanye) ÷ Biaya Kampanye × 100%
| Tipe Brand | Contoh Kampanye | Estimasi ROI |
|---|---|---|
| FMCG | Billboard + hashtag TikTok | 120% – 180% |
| E-commerce | DOOH + QR voucher | 60% – 150% |
| Luxury brand | LED premium lokasi SCBD/Bundaran HI | 30% – 90% |
| Startup Fintech | Transit MRT + push social ads | 80% – 200% |
Faktor terbesar yang memengaruhi ROI adalah desain pesan, lokasi, integrasi digital dan tentunya timing (hindari musim mudik jika targetnya urban kelas menengah ke atas).
5. Tips Mengoptimalkan CPM, CPC, dan ROI OOH di Indonesia
- Gunakan creative localized message agar audiens merasa dekat dengan brand
- Gabungkan OOH dengan performance digital retargeting
- Pilih lokasi berdasarkan jam traffic bukan sekadar popularitas landmark
- Lakukan A/B test desain kreatif di kota tier-2 berbiaya lebih rendah (contoh: Makassar, Yogyakarta) sebelum scale up ke Jakarta
- Periksa secara rutin viewability report dan proof of play dari vendor
Kesimpulan
Biaya iklan OOH di Indonesia masih kompetitif untuk brand global, dengan CPM tradisional di bawah USD 10 dan CPM digital rata-rata USD 7. Jika dikombinasikan dengan komponen digital seperti QR code dan landing page, CPC aktual dapat bersaing dengan iklan Facebook maupun Google Ads. Dengan pendekatan kreatif, timing yang tepat, serta integrasi omnichannel, ROI iklan OOH di Indonesia pada 2025 berpotensi mencapai lebih dari 150 persen, terutama pada kategori FMCG, fintech dan e-commerce.



