Ketika orang berbicara tentang iklan luar ruang di Indonesia, Jakarta sering menjadi pusat perhatian. Billboard digital besar, lalu lintas padat dan kepadatan penduduk menjadikannya pusat alami untuk kampanye OOH. Namun di balik dominasi ibu kota, ada perubahan yang menarik: munculnya kota-kota tier dua seperti Surabaya, Medan, Makassar, Semarang, dan Palembang. Kota-kota ini kini menjadi penggerak baru pertumbuhan industri OOH, menawarkan potensi besar yang belum banyak dimanfaatkan serta jalur yang lebih berkelanjutan untuk menjangkau audiens nasional.
Pertumbuhan Perkotaan dan Ekonomi yang Semakin Luas
Kota-kota tier dua di Indonesia tidak lagi hanya pemain regional. Urbanisasi cepat, proyek infrastruktur baru, dan meningkatnya kelas menengah mengubah cara hidup dan mobilitas masyarakat. Bagi pengiklan, hal ini berarti lebih banyak perhatian dari konsumen di pasar yang lebih kecil namun dinamis. Bandara baru, jalan tol, dan pusat perbelanjaan modern menjadikan kota-kota ini sebagai pusat aktivitas ekonomi dan gaya hidup.
Brand yang hanya fokus pada Jakarta berisiko melewatkan jutaan calon konsumen. Surabaya, misalnya, kini memiliki populasi metropolitan lebih dari 10 juta jiwa, sementara Medan berperan penting sebagai penghubung wilayah barat Indonesia melalui perdagangan dan logistik. Pola mobilitas dan kebiasaan berbelanja di wilayah ini menciptakan peluang besar bagi eksposur OOH yang efektif.
Kompetisi Lebih Rendah, Dampak Lebih Besar
Pasar OOH di Jakarta sangat padat dan mahal. Sebaliknya, kota-kota tier dua menawarkan lingkungan yang lebih tenang dari hiruk-pikuk media. Hal ini membuat satu billboard saja bisa mendominasi perhatian visual. Contohnya, satu layar LED strategis di pusat kota Makassar dapat menjangkau audiens sekaligus wisatawan dari wilayah timur Indonesia. Efisiensi biaya juga menjadi daya tarik utama, karena tarif sewa media lebih rendah dan aturan lokal lebih fleksibel, memberikan hasil visibilitas yang lebih optimal.
Relevansi Lokal dan Kedekatan Budaya
OOH di kota tier dua memiliki nilai yang sering kali sulit dicapai oleh brand global, yaitu kedekatan budaya. Setiap daerah memiliki identitas dan nilai yang unik. Kampanye yang menampilkan bahasa lokal, motif tradisional, atau figur publik daerah cenderung lebih mudah diterima. Sebagai contoh, brand makanan yang menampilkan nuansa lokal di Semarang atau Palembang biasanya mendapat respons emosional yang lebih kuat dibandingkan visual generik nasional.
Wilayah Strategis Baru untuk Jangkauan Nasional
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin merata, industri OOH perlu beradaptasi dengan arah baru ini. Brand yang berinvestasi pada kesadaran regional akan memperluas jangkauan pasar sekaligus membangun loyalitas konsumen yang lebih kuat. Kota-kota tier dua tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan wilayah strategis baru bagi pengiklan yang ingin menjangkau masyarakat Indonesia secara autentik.
Penutup
Seiring berkembangnya lanskap periklanan di Indonesia, kota-kota tier dua menjadi kunci untuk membangun visibilitas dan relevansi jangka panjang. Dengan berinvestasi lebih awal dan membangun kehadiran lokal, brand dapat menciptakan hubungan yang lebih kuat dengan masyarakat yang menjadi sumber pertumbuhan berikutnya. Masa depan OOH di Indonesia akan ditentukan bukan hanya oleh teknologi, tetapi oleh sejauh mana brand mampu memahami dan menghargai keberagaman regional di seluruh negeri.



