Out-of-Home (OOH) advertising telah lama menjadi bagian penting dari strategi pemasaran brand di Indonesia. Namun, banyak pelaku pemasaran masih menempatkan OOH secara generik dalam tahapan "awareness" saja, padahal pendekatan yang lebih strategis dapat mengintegrasikan OOH ke seluruh tahapan marketing funnel: awareness, consideration, hingga conversion.
Artikel ini membahas secara mendalam kapan dan bagaimana sebaiknya OOH digunakan pada setiap tahap funnel, lengkap dengan contoh aplikatif di pasar Indonesia.
1. Awareness: Membangun Kesadaran Brand di Ruang Publik
OOH paling umum digunakan untuk membangun brand awareness. Billboard, LED Screen di pusat perbelanjaan, hingga iklan transit di halte dan stasiun adalah sarana yang efektif untuk menjangkau audiens secara luas.
Karakteristik:
- Menjangkau audiens dalam jumlah besar.
- Tidak bergantung pada algoritma digital.
- Cocok untuk peluncuran produk baru atau rebranding.
Contoh Kasus:
Brand fintech Indonesia menggunakan billboard di jalur protokol Jakarta selama 2 minggu sebelum aplikasi mereka diluncurkan. Hasil survei menunjukkan 78% responden di area target mengenali logo perusahaan tersebut pada saat peluncuran.
2. Consideration: Memperkuat Pesan dan Mengarahkan Minat
OOH juga dapat memainkan peran penting dalam tahap consideration, yaitu ketika calon konsumen mulai mempertimbangkan opsi mereka. Di sini, konten OOH harus lebih edukatif, informatif, dan spesifik.
Strategi Efektif:
- Gunakan QR Code yang mengarahkan ke landing page.
- Cantumkan USP (Unique Selling Proposition) secara singkat.
- Tempatkan di titik-titik decision making seperti mal, halte, atau rest area.
Contoh Kasus:
Brand layanan kursus online menempatkan iklan DOOH interaktif di stasiun MRT Jakarta dengan CTA: "Scan untuk dapatkan kelas gratis!". Jumlah pendaftar meningkat 32% selama kampanye berlangsung.
3. Conversion: Mendorong Tindakan Langsung
Tahap ini sering kali dianggap domain eksklusif digital marketing. Namun, dalam konteks hyperlocal, OOH bisa sangat efektif untuk mendorong konversi, terutama dengan pemicu instan.
Teknik Pendukung:
- Countdown atau promo waktu terbatas.
- Peta lokasi toko terdekat.
- Integrasi dengan promo mobile atau e-wallet.
Contoh Kasus:
Sebuah jaringan restoran cepat saji menjalankan kampanye "Diskon 50% jam makan siang" dengan countdown timer di LED jalan Sudirman. Dalam 10 hari, penjualan di gerai sekitar meningkat 18%.
Tips Integrasi OOH ke Seluruh Funnel
- Gunakan data lokasi dan waktu (behavioral mapping) untuk penempatan optimal.
- Sinkronisasi pesan OOH dengan kampanye digital (retargeting, social ads).
- Lakukan tracking dengan URL khusus, QR Code, atau short link.
Kesimpulan
OOH bukan hanya alat untuk membangun awareness. Dengan strategi yang tepat, OOH bisa menjadi katalis yang kuat dalam seluruh perjalanan konsumen dari mengenal brand, mempertimbangkan pilihan, hingga akhirnya melakukan pembelian. Sudah saatnya brand di Indonesia melihat OOH sebagai media yang fleksibel, powerful, dan sangat bisa diukur efektivitasnya jika digunakan secara cerdas.



